Pascapanen Padi (5)

Susut pascapanen: Mungkinkah Rendemen Giling Ditingkatkan

Sebagian besar penggilingan padi masih didominasi oleh penggilingan padi kecil (PPK) dengan tingkat teknologi yang sederhana.  Secara nasional jumlah penggilingan padi mencapai 110.611 unit, dimana 35,3 % berupa PPK dan 34,4 % berupa RMU.

Rendemen giling memang sangat tergantung pada kualitas gabah, kadar air,  musim panen, alsin yang digunakan dan konfigurasi mesin. Penggilingan padi kecil dengan konfigurasi husker (pemecah kulit) dan polisher (penyosoh) disingkat H-P umumnya menghasilkan rendemen rendah yaitu sekitar 55,7 % dengan kualitas beras kepala hanya 74,3 % dan beras patah (broken) mencapai 12,0 %.

Gabah yang dipanen pada musim hujan memiliki kadar air lebih tinggi tetapi fisik gabah lebih bagus.  Sedangkan pada musim gadu gabah memiliki kadar air lebih rendah akan tetapi fisiknya kurang bagus dibanding musim hujan.

Penggilingan padi kecil pada salah satu Gapoktan di Subang berkonfigurasi dua kali pecah kulit dan dua kali sosoh (2H-2P) menghasilkan rendemen 55 %. Penambahan alat pemisah gabah (separator) setelah husker dengan kofigurasi 1H-S-2P atau 2H-S-2P mampu meningkatkan rendemen menjadi 58 %.

Pada salah satu Gapoktan di Karawang dengan konfigurasi 2H-S-2P menghasilkan rendemen giling rata-rata pada musim hujan adalah 57-59 %, sedangkan pada musim gadu sebesar 58-61 %.

Adapun penggilingan padi besar (PPB) yang memiliki konfigurasi dryer, cleaner, husker, separator, polisher, grader (D-C-H-S-P-G) menghasilkan rendemen 61,5 % dengan kualitas beras kepala mencapai 82,5 % dan beras patah 12,0 %. Mungkinkah PPK meningkatkan rendemennya sebesar 1,5 % sebagaimana ditargetkan dalam program GP4GB?

Selain rendemen, susut selama penggilingan perlu mendapatkan perhatian.  Data mengenai susut penggilingan masih sangat langka. Susut penggilingan biasanya dihitung berdasarkan selisih antara rendemen giling skala laboratorium (di lab uji) dengan rendemen giling lapangan (di penggilingan). Peran Perguruan Tinggi sangat diperlukan untuk membantu mengatasi permasalahan pascapanen melalui keterlibatan mahasiswa baik dalam praktek lapangan (PL) maupun penelitian sebagai tugas akhir.  Inilah harapan yang diungkapkan beberapa Gapoktan. [RKH]

Comments are closed.